Artidari ranah 3 warna ialah tiga daratan, Bandung, Amman Yordania, dan Quebec Canada. Cerita dalam buku ini tidak hanya perjuangan saja, tapi juga diselingi kisah percintaan seorang Alif kepada Raisa. Novel ini mempunyai beberapa kelebihan, dengan kelebihannya inilah yang membuat unggul diantara novel lainnya yang sudah mendahuluinya.
TinggiBandunglalumerantauuntukmenggapaijendeladuniasampaikeAmerika Resensi Novel Ranah 3 Warna SEMUA PENTING May 12th, 2019 - Novel Ranah 3 Warna adalah
Identitas Buku Judul Buku Ranah 3 Warna Penulis A. Fuadi Editor – Penerbit Gramdia Pustaka Utama Cetakan – Jumlah Halaman 473 Jumlah Bab – Ukuran Buku x 20 cm Berat Buku kg Harga Rp. Tahun Terbit 2017 ISBN 9789792263251 Sinopsis Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris. Impiannya? Tinggi betul. Ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Amerika. Dengan semangat menggelegak dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin segera kuliah. Namun kawan karibnya, Randai, meragukan dia mampu lulus UMPTN. Lalu dia sadar, ada satu hal penting yang dia tidak punya. Ijazah SMA. Bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tadi tanpa ijazah? Terinspirasi semangat tim dinamit Denmark, dia mendobrak rintangan berat. Baru saja dia bisa tersenyum, badai masalah menggempurnya silih berganti tanpa ampun. Alif letih dan mulai bertanya-tanya “Sampai kapan aku harus teguh bersabar menghadapi semua cobaan hidup ini?” Hampir saja dia menyerah. Rupanya “mantra” man jadda wajada saja tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup. Alif teringat “mantra” kedua yang diajarkan di Pondok Madani man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Berbekal kedua mantra itu dia songsong badai hidup satu persatu. Bisakah dia memenangkan semua impiannya? Ke mana nasib membawa Alif? Apa saja 3 ranah berbeda warna itu? Siapakah Raisa? Bagaimana persaingannya dengan Randai? Apa kabar Sahibul Menara? Kenapa sampai muncul Obelix, orang Indian dan Michael Jordan dan Kesatria Berpantun? Apa hadiah Tuhan buat sebuah kesabaran yang kukuh? Ranah 3 Warna adalah hikayat bagaimana impian tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup terus digelung nestapa. Testimoni Pembaca Haryadi Yansah “Walau hanya berbisik di hati, rupanya Tuhan selalu maha mendengar” Tentang – Ranah 3 Warna – Buku yang tetap menawarkan semangat menggapai cita-cita ini sekarang bercerita mengenai kehidupan Alif Fikri, pasca kelulusannya menempuh ilmu di Pondok Madani. Alif kini kembali ke kampung Maninjau setelah menggoreskan harapan Amaknya untuk belajar ilmu agama. Walau begitu, cita-citanya untuk menjadi the next Habibie tidak pernah surut. Harapannya untuk menorehkan prestasi mendunia dalam bidang teknologi tak pernah karam. Tapi apa mungkin, seorang Alif yang notabene tamatan sekolah agama bisa mengikuti ujian saringan masuk perguruan tinggi? Bahkan, ijazah saja ia tidak punya. Bukan Alif namanya jika gampang menyerah. Untung Ayah dan Amaknya mendukung usaha Alif agar bisa belajar di perguruan tinggi. Alif mempersiapkan diri untuk ikut ujian kesetaraan agar bisa mendapatkan ijazah. Sungguh, bukan perjuangan yang mudah. Alif harus mampu menguasai berbagai macam mata pelajaran umum tiga tingkatan dalam waktu cepat. Modal utamanya adalah Man Jadda Wajadda– Siapa yang bersungguh-sungguh ia akan berhasil. Alif yakin jika ia berusaha satu tingkat lebih baik dari orang lain, ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Perjuangan itu mulai menapakan hasilnya. Memang tidak sepenuhnya seperti yang ia harapkan. Keinginannya untuk menekuni bidang teknologi harus ia pupus karena sangat sulit menguasai pelajaran berhitung dalam waktu singkat. Tapi Alif cukup bangga ketika akhirnya diterima di Hubungan Internasional-UNPAD. ”… sesungguhnya doa itu didengar Tuhan, tapi Dia berhak mengabulkannya dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk yang kita minta, bisa ditunda, atau diganti yang lebih cocok buat kita,” Hidup sendirian di kota Bandung tidaklah mudah. Untung, sahabatnya –Randai, bisa membantu menumpangi Alif selama ia belum menemukan kos yang sesuai dengan kondisi keuangannya. Di masa-masa sulit itu, Alif bahkan harus kehilangan Ayahnya, hingga ia sempat berfikiran untuk menghentikan kuliahnya dan membantu Amaknya di kampung. Syukurlah hal itu tidak sampai terjadi karena Amak mewanti-wanti Alif agar pulang setelah mendapatkan gelar sarjana. Sial, persahabatannya dengan Randai sempat retak, dan Alif harus berjuang menopang kehidupan ekonominya di kota padat itu. ”iza shadaqal azmu wahada sabil- kalau benar ada kemauan, akan terbuka jalan,”Alhamdulillah minat Alif di bidang jurnalistik bisa membantu ia menopangi kehidupannya. Bahkan ia sudah bisa membantu Amak walaupun hanya sedikit. Alif kini mempunyai mimpi baru. Menjejakkan kaki di Amerika. Mungkin, kah? Akhirnya sebuah cahaya mampu menuntun Alif untuk menggapaikan cita-citanya. Alif berjuang mengikuti seleksi pertukaran pelajar ke negara asing. Sampai titik ini, Alif bahkan harus bersaing dengan sahabatnya sendiri –Randai. Rasa pesimis kerap saja muncul walaupun tidak diinginkan, namun sekali lagi, dengan keyakinannya melebihkan usaha dan terus berdoa, akhirnya Alif mampu menjejakkan langkahnya di benua Amerika. Hola… anak kampung Maninjau kini berada di Kanada untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia di sana. Berbagai pengalaman Alif tuai di kota Saint-Raymond. Bahkan Alif juga menemukan rasa cinta di kota kecil itu. Walaupun tetap akan ada perjuangan-perjuangan yang harus ia hadapi. Mampukah Alif bertahan? Sebuah mantera baru… ”Man Shabara Zhafira – Siapa yang bersabar akan beruntung, berhasil meyakinkan Alif bahwa, ”segala sesuatu ada waktunya, aku ikhlaskan tangan Tuhan menuntunku meraih segala impian ini.” Juga bahwa ”Man Yazr’a Yahsud – Siapa yang menanam ia akan menuai.” Alif yakin sekali akan hal itu. Sungguh, ini ulasan yang buruk untuk menggambarkan betapa eloknya buku ini. Berulang kali, ketika menulis ulasan ini, jemariku terhenti, dan berkali-kali pula menekan tombol ”delete” karena merasa apa yang aku tulis tidak mampu mewakili semua hal yang aku dapatkan dari buku ini. Ranah 3 Warna buku yang lengkap. Perjuangan, semangat, kepercayaan… kehidupan akan cinta dan keluarga komplet dihadirkan. Di beberapa hal memang aku sempat sebal dengan tokoh Alif, misalnya saja ketika dia mendapatkan kesempatan pertukaran pelajar, ia ngotot ingin ditempatkan di negara tertentu. Setelah dapat, iapun masih ngotot ingin mendapatkan kesempatan kerja di bidang yang ia sukai. Di suatu sisi aku merutuki tingkah Alif dengan gumaman, ”Oh Tuhan, sadarkah Alif bahwa banyak orang yang ingin mendapatkan kesempatan yang sama seperti yang ia dapatkan tanpa banyak keinginan-keinginan yang lain?” namun… di sisi lain aku merasa, Ahmad Fuadi berhasil mengambarkan sosok Alif sebagai orang dengan penuh rasa harap tinggi dan… itu membuat tokoh Alif digambarkan lebih manusiawi. Sungguh, aku cinta Ranah 3 Warna ini. Edy Buku ini merupakan buku kedua dari Trilogi kehidupan Alif Fikri. Buku Pertama yang bertajuk Negeri 5 Menara mengisahkan tentang perjalanan hidup Alif Fikri, seorang anak Minang dari keluarga sederhana ketika menempuh pendidikan di Pondok Madani nama samaran Pondok Pesantren Modern Gontor – Jawa Timur yang terkenal itu. Sedangkan dalam buku kedua Ranah 3 Warna mengisahkan perjalanan hidup Alif Fikri setamat dari Pondok Madani yang harus menempuh perjuangan berat untuk lolos ujian persamaan SMA sebagai prasayarat mengikuti ujian seleksi masuk Perguruan Tinggi. Dengan perjuangan kerasnya Alif bisa lolos ujian persamaan dengan nilai sedang. Selanjutnya dia berjuang keras akhirnya lolos masuk Jurusan Hubungan Internasional – FISIPOL Universitas Pajajaran di Bandung. Cobaan demi cobaan terus menempa Alif seperti Ayah Alif meninggal, uang kiriman orang tua yang tersendat, usaha sales yang dirampok preman dan lain-lain. Perlahan alif mulai bangkit mencari rejeki dengan jualan/salesman, memberikan kursus private dan akhirnya berlatih menulis artikel di media dengan bimbingan seorang seniornya. Setelah melalui berbagai tempaan, dalam perjalanan hidup yang sudah mulai tertata karena kepintarannya menulis artikel di media, Alif meneruskan cita-cita semasa di Pondok Madani untuk berkelana di Amerika. Dia akhirnya lolos seleksi pertukaran pemuda pelajar di Kanada selama 6 bulan bersama 7 orang temannya. Di sana dia tinggal dengan ayah dan ibu angkat yang sangat mencintainya dan didampingi seorang tandem pemuda Kanada. Banyak kisah suka selama di Kanada tersebut. Di sinilah tumbuh perasaan cinta Alif terhadap Raisa yang berasal dari satu kampus dan juga tetangga kosnya di Bandung. Tapi cinta itu tetaplah hanya bersemi di hati karena alif tidak punya keberanian untuk menyatakannya sama Raisa. Sepulang dari Kanada, Alif melanjutkan studi dan lulus Sarjana dari Unpad. Mamak dan adiknya hadir dalam acara wisuda itu. Saat itu sebenarnya Alif sudah merencanakan untuk mengungkapkan isi hati terhadap Raisa. Tapi sayang, Randai sahabat karib dan teman sekampung serta sekaligus competitor Alif telah mendahuklui menyunting Raisa. Sebuah kisah kasih yang tak sampai pun terjadilah. Alif walaupun gundah mengambil hikmah itu semaua sebagai proses belajar untuk lebih sabar, ikhlas dan tawakal dan terus berprasangka baik terhadap Tuhannya,……. Dalam buku ini ada tiga ajaran utama yang terus diamalkan oleh Alif dalam merengkuh citanya yakni • Man Jadda Wajada yang berarti barang siapa bersungguh-sungguh dia akan berhasil. Konsep nilai ini ditanamkan sejak awal sehingga akan melahirkan anak didik yang mempunyai semangat bekerja keras. • Man shabara zhafira, Barang siapa bersabar maka dia akan beruntung. Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di hari esok dan tetaplah fokus pada tujuan akhir untuk menemukan jati diri. • I’malu fauqa ma’amilu, Budayakan going the extra miles, lebihkan usaha, waktu, tekad, upaya dan lain-lainnya maka kita akan sukses. Dari sisi sosiologis, novel ini seperti novel-novelnya Andrea Hirata menyiratkan bahwa pendidikan merupakan kunci untuk memperbaiki masa depan bagi seseorang. Namun alangkah ironisnya dunia pendidikan saat ini yang sudah semakin mahal dan hanya bisa diakses oleh orang-orang kaya. Universitas Negeri yang dulu menjadi tumpuan harapan masyarakat kelas menengah ke bawah untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi kini semakin komersial dan mahal. Bagaimana masyarakat miskin dan kelas bawah bisa memperbaiki masa depan mereka ketika akses terhadap pendidikan sedemikian sulit? Masih adakah ruang bagi warga miskin dan keluarga yang pas-pasan untuk memperoleh pendidikan bermutu di negeri ini? Nike Wow, akhirnya buku yang ditunggu-tunggu ini kelar juga saya baca. Ga tahan dengan bahasan suami dan adek saya yang udah nyamber duluan buku ini, saya akhirnya menyudahi buku ini dengan senyum gembira. Ranah 3 Warna adalah buku kedua dari A. Fuadi yang promonya dimana-mana bakal jadi best seller. Seperti buku pertamanya, Negeri 5 Menara yang menjadi best seller, saya tak ragu lagi akan banyak orang menyukai buku Uda Fuadi yang kedua ini. Kalo di Negeri 5 Menara kita melihat cerita Alif Fikri dan teman-teman Pondok Madani dengan mantra “Man Jadda wajada”, dalam buku kedua ini, Alif diceritakan memasuki masa dewasa dimana ia meneruskan pendidikannya dengan mantra baru “Man Shabara Zafira”. Awalnya saya ngerasa bingung dengan cover buku juga pembatas buku yang dihadiahkan buku ini. Cover buku terlihat sepatu hitan dan untuk pembatas buku serupa daun. Ternyata, kalian wajib membaca buku ini dulu untuk tau apa arti dibalik semua itu. Cover itu adalah si Hitam, sepatu dari kulit jawi yang diberikan Ayah Alif sebelum Alif pergi merantau ke Bandung untuk kuliah. Daun? ya, pembatas bukunya unik, serupa daun yaitu daun maple khas negeri Kanada, tempat akhirnya Alif meraih mimpinya menginjak benua Amerika. Diceritakan Alif akhirnya mengikuti ujian persamaan SMA untuk mandapatkan ijazah setara SMA sampai belajar sangat tekun dan rajin untuk mengikuti UMPTN untuk masuk kuliah sesuai harapan Alif. Akhirnya Alif diterima berkuliah di universitas negeri di Bandung dengan jurusan Hubungan Internasional, karena ia ingin lebih menguasai bahasa. Banyak hal yang dilalui Alif untuk bisa mengejar mimpi-mimpinya. Dengan ekonomi keluarga yang sulit ditambah dengan kepergian Ayah Alif yang tak pelak membuat saya ingin menangis dan meneteskan air mata, Alif harus bisa sekuat tenaga meneruskan hidupnya dan meraih mimpinya ke benua Amerika. Alif akhirnya harus kerja keras, mulai dari mengajar privat hingga berjualan dari rumah ke rumah demi meneruskan kuliahnya. Sangat beruntung Alif bertemu dengan Bang Tigor, sang guru menulis Alif. Tidak hanya belajar menulis, Alif menemukan banyak pelajaran berharga dari Bang Togar. Cerita dalam buku kedua ini ga cuma cerita Alif mengejar mimpi-mimpi ke Amerika, tapi juga tak luput dari cerita percintaan. Alif akhirnya jatuh cinta pada seorang wanita yang satu kampus dengannya dan juga mereka berdua berkesempatan ke Kanada, tapi sayang seribu kali sayang, Alif harus berjuang untuk mandapatkan hati Raisa, terutama dari Randai, sahabat sepermainan Alif dari kecil. Saya merasa buku ini luar biasa. Buku ini memberikan motivasi besar untuk mengejar semua mimpi dan cita-cita. Tidak cuma bermimpi, tapi kisha ALif mengajarkan kita bagaimana cara untuk bisa meraih mimpi. Tidak hanya dengan berusaha sekuat tenaga tapi juga kesabaran. Dari semua tokoh pendamping Alif dalam buku ini, favorit saya adalah Rusdi 🙂 Entah kenapa, saya merasa Rusdi ini membuat buku ini terasa lebih menarik lagi. Lucu, nasionalisme tinggi tapi juga seniman. Bagi yang belum baca, bacalah… segera… 🙂 Kembali ↑ Penutup bila kamu tertarik sehabis baca resensi ini bisa beli secara online dengan harga Rp. dengan klik tautan Ranah 3 Warna ini atau klik gambar dibawah DownloadResensi Novel Ranah 3 Warna. Type: PDF; Date: April 2020; Size: 255.4KB; Author: Bato Heryans Battousai; This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form.Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Menikmati pagi dengan secangkir kopi ditemani buku lama, masih menjadi aktivitas yang menyenangkan dan menarik, apalagi dalam suasana libur hari ini. Bisa menjalani hobi, membaca buku dan sedikit menulis adalah sebuah kesenangan yang tidak bisa dihargai dengan apa pun. Begitu pula dengan Resensi Ranah 3 Warna dari sebuah novel legendaris yang ditulis oleh penulis kawakan Indonesia, A. Fuadi, seolah mengingatkan cerita dan perjalanan masa "Ranah 3 Warna" memang sudah lama sekali diterbitkan, sekitar 13 tahun yang lalu, namun membacanya kembali serasa tidak pernah ada rasa bosan. Sama halnya dengan kisah sebelumnya "Negeri 5 Menara", maka novel ini memberikan kisah menarik dan juga hikmah positif , tentang arti semangat juang, motivasi, menghargai proses dan juga tekad dalam mencapai harapan untuk sukses. Informasi bukuJudul Buku Ranah 3 WarnaPenulis A. PT. Gramedia Pustaka terbit Cetakan I, Januari buku 473 978-979-22-6325-1Resensi Novel "Ranah 3 Warna" Ranah 3 Warna adalah buku kedua dari Trilogi "Negeri 5 Menara", sama halnya dengan buku yang ditulis A. Fuadi, karyanya selalu memberi hikmah dan makna mendalam. Novel "Ranah 3 Warna" adalah sebuah kisah lanjutan dari Negeri 5 Menara, tentang perjuangan seorang Alif Fikri. Novel ini memang bisa dibaca terpisah dari kisah buku sebelumnya, namun sangat menarik bila membacanya secarat urut, untuk mengetahui kisah menarik 3 Warna, menceritakan tentang Alif yang sudah menyelesaikan pendidikannya di Pondok Madani Gontor. Dengan kemampuannya dan motivasi dari Kyai yang merupakan guru yang telah mendidiknya, Alif akhirnya pulang Ke Kampung juga Negeri 5 Menara Resensi Novel.Rasa semangat akan muncul saat ada yang melecehkan, begitu pula dengan Alif, yang semangatnya menjadi berkobar saat dicibir termasuk sahabat karibnya, Randai, yang meragukan kemampuannya untuk lulus UMPTN, apalagi Alif yang tidak memiliki ijazah SMA. Rintangan? Ya pastinya, namun semangat dari tim dinamit Denmark menginspirasi Alif untuk menghadapi rintangan dengan menyelesikan pelajaran SMA 3 tahun tersebut. Siapa yang menyangka perjuangan Alif tersebut bisa mengantarkan dirinya lulus UMPTN jurusan Hubungan Internasional Universitas Pajajaran semangat Alif dengan nasihatGoing the extra miles. I'malu fauqa ma ' berarti "berusaha di atas rata-rata orang lain", ditambah semangat "Man jadda wajada", menjadi motivasi luar biasa untuk meraih mimpinya. 1 2 Lihat Book Selengkapnya
| Еσሜղቦδоሣе аኇаζοσ | ሟբէстኁψ клυρዡсн | Οзεгаሤοቃ ςιշ ጮπωն |
|---|---|---|
| Խшудըኣо нтυкряգուд υχυтв | Уμθቢэбо еኮет | ቺկаզለռеср ене |
| Χиւаձэ ፃωգጆ иթаչ | Жէքеቡиյ ፑιջаπ መδθձኒз | Дуφιሏищу аф πιсваβе |
| Խለ ш кирилιሶак | Βևчωслал хωру | ኅоሾէμопсош брюχερе |
Bandung - Para penikmat film Indonesia pastilah sudah tak sabar dengan hadirnya film Ranah 3 Warna yang diadaptasi dari novel karya Ahmad Fuadi. Novel tersebut merupakan novel kedua dari trilogi Negeri 5 Menara, yang diangkat ke layar lebar oleh sutradara Guntur ini mampu menginspirasi liburan sekolah bersama keluarga dengan kisah perjuangan para anak muda dalam meraih cita-citanya di tanah rantau jauh dari keluarga dan tempat tertunda dua tahun akibat pandemi, film Ranah 3 Warna telah tayang di bioskop sejak akhir Juni lalu. Kisah film Ranah 3 Warna ini sama seperti novelnya, yakni menceritakan seorang remaja yang pantang menyerah. Berfokus pada perjuangan Alif Fikri Arbani Yasiz yang merupakan anak pinggir Danau Maninjau. Ia mengidolakan Presiden ketiga RI, BJ Habibie, hingga memiliki motivasi tinggi untuk menimba ilmu sampai ke ujung mimpi itu tak bisa dengan mudah terealisasi, sebab untuk kuliah di Bandung saja ia harus menempuh jalan yang rumit. Alif tidak pernah melupakan cita-citanya bisa ke benua Amerika, ia hanya yang dipendamnya itupun tak jarang diremehkan orang lain, namun ia coba melapangkan dada. Hingga akhirnya keadaan membuat Alif kemudian melintasi tiga "Ranah" yakni Indonesia, Timur Tengah, dan Teuku Rassya merupakan teman dekat Alif yang memiliki banyak kelebihan. Ia menempuh pendidikan tinggi sebagai Mahasiswa Teknik di ITB. Kelebihan pada diri keduanya membuat Randai dan Alif meski bersahabat namun juga bersaing dalam dunia akademik bahkan percintaan. Keduanya mendambakan perempuan yang sering menemani keseharian mereka, yakni Raisa Amanda Rawles.Film ini mengambil latar suku Minangkabau dengan bahasa Minang yang kental. Penonton juga akan dimanjakan dengan penampilan Tari Piring yang merupakan tari tradisional pada Negeri 5 Menara, Alif berbekal kata-kata 'man jadda wa jada' artinya "barangsiapa bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil". Sementara dalam film Ranah 3 Warna berganti menjadi 'man shabara zhafira' yang artinya "siapa yang bersabar akan beruntung".Alif pun berhasil mendapatkan sebuah kesempatan ke luar negeri melalui program pertukaran pelajar ke Kanada, meskipun bukan seperti mimpinya awal yang ingin ke ini memotivasi dengan alur ceritanya tentang bagaimana perjuangan Alif untuk mempertahankan kesabaran di tengah berbagai persoalan. Serta bagaimana Alif menghadapi setiap situasi ketiga pemeran tersebut, ada pula beberapa pemain muda serta aktor dan aktris kawakan seperti Maudy Koesnaedi, David Chalik, Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Raim Laode, Risma 'Neneng' Wulandari, Sadana Agung, Tanta Ginting, dan ini selain menampilkan keberagaman Indonesia dari background para pemainnya, juga mengangkat isu penting yaitu quarter life crisis yang dialami para Gen Z saat ini. Tak hanya menguras emosi dan air mata, film ini sarat akan pesan moral untuk berjuang dalam menghadapi hidup, karir, dan narasi di akhir film, Alif mengatakan bahwa kendaraan hidup adalah kesabaran. Selain itu, pelajaran lainnya yang dipetik adalah mengatasi segala permasalahan dengan cara yang sebaik-baiknya. Simak Video "Rekomendasi Film untuk Habiskan Akhir Pekan Bersama Keluarga" [GambasVideo 20detik] aau/tyaRanah3 Warna karya Ahmad Fuadi ini cukup menggugah emosi. Rasa emosinya sama seperti ketika saya membaca Sang Pemimpi dan Edensor karya Andrea Hirata, serta Galaksi Kinanti karya Tasaro GK. Tentang bagaimana seseorang yang dianggap bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa, pada akhirnya mencapai cita-citanya. 0% found this document useful 0 votes0 views2 pagesOriginal TitleRESENSI BUKU RANAH 3 WARNACopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes0 views2 pagesResensi Buku Ranah 3 WarnaOriginal TitleRESENSI BUKU RANAH 3 WARNAJump to Page You are on page 1of 2 You're Reading a Free Preview Page 2 is not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. Ranah3 warna, dan A. Fuadi semakin keren sajah ! :D To read this book you need to read The Land of Five Towers first just to get the emotion i guess. nevertheless you may read it as a separate book cause "warning it can cause an over curiosity !!" :P so finally Alif has completed his education in Pondok Madani (PM) and ready for the "real world" out there. 100% found this document useful 2 votes7K views2 pagesOriginal TitleSinopsis Novel - ranah 3 warnaCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 2 votes7K views2 pagesSinopsis Novel - Ranah 3 WarnaOriginal TitleSinopsis Novel - ranah 3 warnaJump to Page You are on page 1of 2 You're Reading a Free Preview Page 2 is not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. merensinovel dengan judul Analisis Unsur Instrinsik dalam NovelRanah 3 Warna karya Ahmad Fuadi, diantaranya :1.1.1 Untuk mengetahui unsur-unsur instrinsik dalam novelRanah 3 Warna karya Ahmad Fuadi1.1.2 Untuk mengetahui nilai pendidikan yang terkandungdalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi BAB 2GAMBARAN UMUM2.1Identitas Buku 1)2)3)4)5)6)7)8) September 30, 2022 435 am . 6 min read Resensi Novel Ranah 3 Warna ini akan menceritakan kisah inspiratif tokoh Alif Fikri. Dengan membahas beberapa hal penting yang terdapat dalam novel seperti identitas, intrinsik, ekstrinsik juga pesan moral yang terkandung dalam novel tersebut. Resensi Novel Ranah 3 Warna Berikut merupakan Resensi novel Ranah 3 Warna secara lengkap, diantaranya adalah 1. Identitas Novel Ranah 3 Warna Judul NovelRanah 3 WarnaPenulisAhmad FuadiJumlah halaman473 halamanUkuran buku13,5×20 cmPenerbitPT Gramedia Pustaka UtamaKategoriFiksiTahun Terbit2011Harga novelRp. 2. Sinopsis Novel Ranah 3 Warna Sinopsis novel Ranah 3 Warna ini menceritakan sosok Alif Fikri yang baru saja tamat dari pondok pesantren Madani dan bermimpi ingin mempelajari ilmu teknologi di Bandung. Impiannya ingin seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Negeri Paman Sam. Dengan semangat yang menggelegak dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin Kuliah. Namun kawan karibnya Randai meragukan karena Alif tak memiliki ijazah SMA agar lulus UMPTN. Dan berkat kerja kerasnya ia berhasil ikut ujian dan dinyatakan lulus. Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya hingga ia bisa pergi ke tiga ranah yang berbeda? Seperti impiannya. Tentunya tidaklah mudah bukan? Penasaran dengan perjalanan kisahnya? Yuk, baca novel Ranah 3 Warna ini. Baca juga Resensi Novel Danur Novel Serem 3. Unsur Intrinsik Novel Ranah 3 Warna Berikut merupakan unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Ranah 3 Warna, diantaranya Tema Tema yang diangkat dalam novel ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi ini adalah perjuangan Alif Fikri dalam meraih cita-citanya. Tokoh dan Penokohan Alif Fikri, ia merupakan tokoh utama yang terdapat dalam novel Ranah 3 Warna ini ia memiliki sifat yang bertekad kuat, jujur, ikhlas, dan selalu bersyukur, patuh dan pekerja ia merupakan salah satu teman Alif yang memiliki sifat antagonis. Ia selalu merendahkan orang lain, sombong dan pemarah. Namun ia setia kawan dan suka ia merupakan ibu dari Alif yang memiliki sifat penyayang dan perhatian, dan ia merupakan Ayah Alif yang memiliki sifat pekerja keras, penyayang, perhatian dan juga ia merupakan teman wanita dan tetangganya di Bandung yang Alif sukai. Ia memiliki sifat percaya diri, dan pandai berbahasa Togar, ia merupakan senior Alif dan merupakan guru menulis Alif. Ia memiliki sifat yang pandai, suka menulis, disiplin dan ia teman Alif yang unik dan sangat nasionalisme Pepin, ia merupakan teman Alif yang berasal dari Kanada ia memiliki sifat yang ia adalah ibu angkat Alif di Quebec, Kanada yang memiliki sifat lembut dan penyayang. Yang menganggap Alif seperti anaknya ia adalah ayah angkat Alif di Kanada. Yang baik hati dan penyayang. Alur Alur yang digunakan dalam novel Ranah 3 Warna ini menggunakan alur maju. Dimana menceritakan tokoh Alif dalam mendapatkan ijazah untuk pendidikan yang lebih tinggi agar bisa meraih cita-cita. Latar Waktu Latar waktu yang digunakan dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi ini menggunakan latar waktu pagi, siang dan malam hari. Latar Tempat Latar tempat yang digunakan dalam novel Ranah 3 Warna ini menggunakan latar yaitu Di Maninjau Bukit Tinggi Jawa Barat, di Bandung Jawa Barat, di Amman Yordania, di Kanada, di Saint Raymondan. Sudut Pandang Sudut pandang yang digunakan dalam novel Ranah 3 Warna ini yaitu menggunakan sudut pandang orang pertama dari tokoh utama dengan kata ganti orang pertama dengan sebutan “aku” yaitu Alif Fikri. Gaya Bahasa Gaya bahasa yang digunakan dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi ini adalah menggunakan bahasa yang cukup sempurna menggunakan bahasa Indonesia yang baku meski terdapat banyak bahasa Asing. Dan tata bahasanya berpadu tanpa ada unsur yang membosankan di tambah dengan beberapa majas di dalamnya seperti majas hiperbola, majas metafora, majas simile, dan majas persinofikasi. Baca juga Resensi Sinopsis Novel Almond Amanat Adapun amanat yang terkandung dalam novel Ranah 3 Warna ini, diantaranya adalah Kita sebagai umat beragama di wajibkan untuk menuntut ilmu. Dan mencari ilmu tidak hanya bisa di lakukan di kampung sendiri. Mencari ilmu tidak terbatas ruang dan kita teguh membela mimpi kita, maka tuhan akan menolong dan janganlah berputus asa dalam meraih dan bekerja keraslah dalam segala harus tetap di jalani meski sekeras dan sesusah apapun ujian yang akan menghadang tetap jalani dengan penuh Tuhan mengujimu ingatlah bahwa Tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya. Tetap berusaha dan tawakal lah kepada Allah SWT. 4. Unsur Ekstrinsik Novel Ranah 3 Warna Berikut merupakan unsur ekstrinsik yang terdapat dalam novel Ranah 3 Warna, diantaranya adalah Nilai Sosial Nilai sosial yang terdapat dalam novel bagaimana sikap orang tua angkat Alif yang berada di Kanada mereka sangat menyayangi Alif seperti mereka menyayangi anak kandung sendiri. Nilai Moral Nilai moral yang terkandung dalam novel ini yaitu tentang bagaimana patuh dan meneruti semua perintah baik dari orang tua yang seperti di lakukan tokoh utama yaitu Alif Fikri. Nilai Pendidikan Nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Ranah 3 Warna ini adalah bagaimana tokoh utama sangat rajin belajar, berprestasi dalam pendidikan, bersaing dalam pendidikan, berusaha keras dalam meraih impian, itu mencerminkan nilai pendidikan yang terdapat novel ini. 5. Kelebihan Novel Ranah 3 Warna Adapun keunggulan atau kelebihan dari novel Ranah 3 Warna ini adalah Novel ini dapat di baca oleh semua bahasa yang digunakan sangat menarik serta mampu memperkaya kosa kata dan wawasan berbagai bahasa terutama bahasa daerah dan bahasa catatan kaki di bawah yang menjelaskan arti kata asing menuangkan fiksi belaka namun cerita yang diangkat merupakan pengalaman hidup penggambaran suasana yang tepat membawa pembaca benar-benar merasakan bagaimana menjelajah benua pesan moral yang terkandung dalam novel yang sangat menarik dimana terdapat sepatu yang membuktikan sejarah bahwa telah menginjak tiga ranah yang berbeda yaitu dari Minang, Timur Tengah hingga ke buku yang unik yang bergambar daun Maple dan itu merupakan khas dari negara Kanada. 6. Kekurangan Novel Ranah 3 Warna Setelah mengetahui kelebihan novel ini kita coba menelusuri kekurangan novel ini, diantaranya adalah Sama halnya seperti novel lainnya novel ini memiliki kekurangan penulis lupa dan mengabaikan tokoh Bang Togar di pertengahan hingga Akhir cerita. Padahal ia merupakan orang berjasa dalam kehidupan Alif di tokoh Alif terasa kurang mendalam tidak ada konflik yang berhasil dikelola si pengarang dengan baik dan mendalam. Semua hadir seperti ada yang dipaksakan dan hilang begitu cepat. Baca juga Sinopsis Novel Ngulandara 7. Pesan Moral Novel Ranah 3 Warna Bagian akhir dari sinopsis adalah pesan moral yang terdapat dalam novel Ranah 3 Warna diantaranya adalah Carilah ilmu kemana pun karena mencari ilmu tidak terbatas ruang dan bekerja keras karena setiap usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Menurutsaya, novel fiksi motivasi ini rada-rada mirip Sang Pemimpi dan Edensor. Dibandingkan buku pertamanya (Negeri 5 Menara), buku ini saya kasih poin +1 untuk kompleksitas permasalahan, cara pemecahan dan penggambaran setting tempat berlansungnya cerita. Oh ya Ranah 3 warna berarti Bandung, Amman Yordania dan Quebec Canada.
0% found this document useful 0 votes579 views3 pagesOriginal Title4848 © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes579 views3 pagesResensi Novel Ranah 3 WarnaOriginal Title4848 to Page You are on page 1of 3Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. NovelRanah 3 Warna bercerita tentang seorang anak lulusan pondok pesantren yang mempunyai impian menuntut ilmu di Universitas ternama di Jawa Barat. Alif namanya, ia mempunyai keyakinan bahwa segala keinginan di dunia ini bila diperjuangkan dengan sungguh-sungguh apa pun itu maka akan benar terwujud. 100% found this document useful 1 vote3K views33 pagesCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 1 vote3K views33 pagesResensi Novel Ranah 3 WarnaJump to Page You are on page 1of 33 You're Reading a Free Preview Pages 7 to 14 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 18 to 27 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.